Serangga Menguntungkan

1. Ulat Sutera Atakas: Perubahan perspektif dari serangga merugikan menjadi serangga menguntungkan

Ulat sutera atakas, Attacus atlas (Linn.), merupakan serangga ngengat anggota familia Saturniidae penghasil serat sutera. Serangga ini memiliki metamorphosis sempurna, yaitu memiliki fase perkembangan berupa telur (Gambar 1A), larva (Gambar 1B-C), pupa (Gambar 1C), dan dewasa (Gambar 1E-F).

Gambar 1. Stadium perkembangan ulat sutera atakas dari telur hingga dewasa

Pada stadium larva, masyarakat menyebutnya sebagai “ulat jedung” atau “uler kékét” (Bahasa Jawa), dan “Ulat Badori” (Bahasa Sunda). Pada stadium dewasa, ngengatnya berukuran besar (± 25 cm) dan disebut sebagai kupu gajah (Bahasa Jawa), rama-rama, atau “Hileud Haji atau Hileud Orok” (Bahasa Sunda). Atakas terdistribusi secara luas di kawasan Asia Pasifik termasuk Indonesia.

Tingkat keberhasilan pemeliharaan ulat sutera liar sangat dipengaruhi oleh jenis pakan, cara pemeliharaan yang digunakan dan kondisi lingkungan tempat pemeliharaan. Di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya, terdapat beberapa jenis tanaman yang potensial untuk dijadikan sebagai tanaman pakan ulat sutera atakas yaitu keben (Barringtonia asiatica), gempol (Nauclea orientalis), sirsat (Annona muricata) dan mahoni (Sweetenia mahagony) (Situmorang, 1996). Penelitian atakas dengan menggunakan tanaman pakan tersebut telah dilakukan dan menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan hidup dan kualitas kokon atakas yang dihasilkan paling baik dengan pakan tanaman keben, walaupun tingkat mortalitasnya masih cukup tinggi yaitu berkisar 20 % hingga 30 %. Pada Antheraea, Attacus, Calosamia cynthia, Platysamia cecropia, Saturnia pyri, Bombyx mori dan Eriogaster lanestris, telah diketahui bahwa faktor lingkungan seperti fotoperiodik, intensitas cahaya, kelembaban dan suhu berpengaruh terhadap keberhasilan hidup ulat sutera, terutama terhadap warna kokon yang dihasilkan dan lama masa diapause pada stadium pupa (Kato and Sakate, 1981;  Wheeler (1915, cit. Peigler, 1989); Harizanis, 2004; Kato and Miyata, 1994).

Penelitian pakan buatan dan pakan alami untuk pemeliharaan atakas di laboratorium telah dilakukan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan kualitas kokon dan keberhasilan hidup atakas di laboratorium masih lebih rendah dibandingkan hasil pemeliharaan di lapang (Situmorang, 1996; Situmorang, 1997). Situmorang (1997) telah melakukan penelitian tentang pakan buatan untuk pemeliharaan atakas di laboratorium dengan memodifikasi formula pakan buatan Antheraea mylitta Drury. yang digunakan oleh Akai et al. (1991). Modifikasi yang dilakukan yaitu dengan mengganti penggunaan tepung daun arjun (Terminalia arjuna) dengan daun keben dan tepung Chlorella diganti dengan tepung pollen. Teknik pemeliharaan yang dilakukan adalah dengan memelihara larva secara individual dalam stoples kaca berukuran d: 15 cm dan t: 24 cm.

Industri pengolahan serat sutera atakas sampai saat ini masih sangat tergantung dengan ketersediaan kokon dari alam. Namun, karena semakin sulitnya menemukan tanaman pakan, akibat kerusakan habitat yang meningkat dan banyaknya musuh alami mengakibatkan populasi atakas semakin menurun. Pemeliharaan atakas di laboratorium dengan pakan buatan sangat penting untuk penyediaan bibit atakas yang berkualitas dan bebas penyakit, studi nutrisi dan penyediaan atakas secara terus-menerus sepanjang tahun. Jika atakas ini berhasil dibudidayakan, diharapkan produksi kokon yang dihasilkan dapat mendukung ketersediaan bahan baku industri sutera. Selain itu, teknik pemeliharaan ini juga penting untuk usaha konservasi dan mencegah eksploitasi atakas yang berlebihan dari alam.

2. Potensi dan tantangan budidaya ulat sutera liar atakas (Attacus atlas (L.)) dengan menggunakan tanaman Gempol (Nauclea orientalis L)

Penulis: Siti Sumarmi, Hari Purwanto, dan Rohmat Setyono
Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi UGM

Banyak jenis serangga di alam yang dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kesejahteraan manusia. Salah satu kelompok diantaranya adalah serangga penghasil sutera. Selain serat sutera murbei yang dihasilkan Bombyx mori telah dikembangkan sutera non murbei. Beberapa jenis ulat sutera non murbei (ulat sutera liar ) antara lain Tasar, Eri, Muga dan Anaphe yang telah banyak dikembangkan sebagai penghasil sutera dibeberapa negara, sedangkan jenis lain yang mulai dikembangkan dan belum banyak diteliti adalah fagara (Attacus atlas), coan, mussel dan Cricula trifenestrata (Jolly et al., 1979, Akai, 1997) (baca selengkapnya).

3. Jenis Kupu- Kupu yang Ditemukan di Luweng Jomblang, Semanu, Gunung Kidul

Penulis: Nurul Tristianti

Pembimbing : Dr. R. C. Hidayat Soesilohadi, M.S.

Kawasan Karst merupakan kawasan yang sangat khas dan memiliki keanekaragaman hayati yang unik. Gua merupakan salah satu ciri kawasan karst dan  memiliki berbagai macam kenampakan. Salah satunya berbentuk sumuran yang sangat besar dan dalam yang oleh penduduk disebut sebagai Luweng. Luweng Jomblang secara kasat mata terlihat memiliki keanekaragaman hayati yang besar. Di dalamnya masih banyak ditemukan vegetasi dan serangga seperti kupu- kupu. Selain menarik, kupu-kupu juga dapat berfungsi sebagai penyeimbang alam dan indikator perubahan lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis kupu-kupu yang ditemukan di luweng  Jomblang, Semanu, Gunung Kidul sebagai dasar pengetahuan dalam usaha konservasi kupu- kupu. Penelitian dilakukan dengan dua kali pengambilan data pada bulan Mei-April 2009 dengan penangkapan langsung (baca selengkapnya)

4. INVENTORI CAPUNG (INSECTA: ODONATA) DI TELAGA MADIRDA DAN AIR TERJUN JUMOG, BERJO, NGARGOYOSO, KARANGANYAR, JAWA TENGAH

Penulis: Markantia Zarra Peritika dan RC Hidayat Soesilohadi

  1. PENDAHULUAN

Capung dimasukkan dalam Ordo Odonata., yang terdiri atas dua Subordo yaitu Anisoptera (dragonflies) dan Zygoptera (damselflies). Metamorfosis anggota Ordo Odonata tersebut adalah hemimetabola (metamorfosis tidak sempurna). Stadium pradewasa (telur dan naiad) hidup di ekosistem perairan tawar dan imago hidup di ekosistem terestrial di sekitar perairan (Corbet 1962).

Capung dewasa terbang dekat dengan perairan hingga radius 500 m dari tepi perairan (Heckman 2006; Theischinger & Hawking 2006). Pematangan gonad dalam waktu 1 s.d. 4 minggu sejak menjadi capung dewasa. Kopulasi diawali dengan posisi tandem, individu jantan mengaitkan ujung abdomen ke bagian occiput (dragonflies) dan prothorax (damselflies) pada individu betina. Kemudian dilanjutkan transfer sperma (posisi seperti roda) yaitu individu jantan mentransfer sperma dari segmen ke-2 abdomen ke kantong penyimpanan sperma pada individu betina selanjutnya terjadi fertilisasi di kantong tersebut (Battin 1993; Theischinger & Hawking 2006) (baca selengkapnya)