Jenis Kupu- Kupu yang Ditemukan di Luweng Jomblang, Semanu, Gunung Kidul

Penulis: Nurul Tristianti

Pembimbing : Dr. R. C. Hidayat Soesilohadi, M.S.

Kawasan Karst merupakan kawasan yang sangat khas dan memiliki keanekaragaman hayati yang unik. Gua merupakan salah satu ciri kawasan karst dan  memiliki berbagai macam kenampakan. Salah satunya berbentuk sumuran yang sangat besar dan dalam yang oleh penduduk disebut sebagai Luweng. Luweng Jomblang secara kasat mata terlihat memiliki keanekaragaman hayati yang besar. Di dalamnya masih banyak ditemukan vegetasi dan serangga seperti kupu- kupu. Selain menarik, kupu-kupu juga dapat berfungsi sebagai penyeimbang alam dan indikator perubahan lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis kupu-kupu yang ditemukan di luweng  Jomblang, Semanu, Gunung Kidul sebagai dasar pengetahuan dalam usaha konservasi kupu- kupu. Penelitian dilakukan dengan dua kali pengambilan data pada bulan Mei-April 2009 dengan penangkapan langsung menggunakan metode jelajah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Luweng Jomblang ditemukan 11 spesies kupu-kupu dari 3 Famili yaitu Famili Papilionidae, Nymphalidae, dan Pieridae. Jenis kupu-kupu tersebut antara lain Catopsilia pomona, Catopsilia pyranthe, Eurema hecabe, Parantica vitrina, Hebomoia glaucippe, Phaedyma columella, Hypolimnas bolina, Phalanta phalanta, Papilio memnon, Graphium sarpedon, dan Graphium doson . Hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan pakan dan faktor lingkungan berupa curah hujan, suhu, kelembaban dan intensitas cahaya matahari. Di dalam luweng banyak terdapat vegetasi sebagai pakan yang mendukung sebagai habitat kupu- kupu. Usaha konservasi kupu- kupu dengan menjaga habitat alaminya sangat diperlukan agar kupu-kupu tetap lestari. read more

INVENTORI CAPUNG (INSECTA: ODONATA) DI TELAGA MADIRDA DAN AIR TERJUN JUMOG, BERJO, NGARGOYOSO, KARANGANYAR, JAWA TENGAH

INVENTORI CAPUNG (INSECTA: ODONATA) DI TELAGA MADIRDA DAN AIR TERJUN JUMOG, BERJO, NGARGOYOSO, KARANGANYAR, JAWA TENGAH

Penulis: Markantia Zarra Peritika dan RC Hidayat Soesilohadi

  1. PENDAHULUAN

Capung dimasukkan dalam Ordo Odonata., yang terdiri atas dua Subordo yaitu Anisoptera (dragonflies) dan Zygoptera (damselflies). Metamorfosis anggota Ordo Odonata tersebut adalah hemimetabola (metamorfosis tidak sempurna). Stadium pradewasa (telur dan naiad) hidup di ekosistem perairan tawar dan imago hidup di ekosistem terestrial di sekitar perairan (Corbet 1962).

Capung dewasa terbang dekat dengan perairan hingga radius 500 m dari tepi perairan (Heckman 2006; Theischinger & Hawking 2006). Pematangan gonad dalam waktu 1 s.d. 4 minggu sejak menjadi capung dewasa. Kopulasi diawali dengan posisi tandem, individu jantan mengaitkan ujung abdomen ke bagian occiput (dragonflies) dan prothorax (damselflies) pada individu betina. Kemudian dilanjutkan transfer sperma (posisi seperti roda) yaitu individu jantan mentransfer sperma dari segmen ke-2 abdomen ke kantong penyimpanan sperma pada individu betina selanjutnya terjadi fertilisasi di kantong tersebut (Battin 1993; Theischinger & Hawking 2006). read more

Keanekaragaman jenis serangga pada tanaman bawang merah (Allium cepa L.) di Desa Srikayangan, Sentolo, Kulon Progo

Penulis: Siti  Sumarmi dan Dwi Astuti

Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi UGM

Bawang merah (Allium cepa L) adalah jenis tanaman berumpun dan berumbi lapis warna keunguan serta berbau tajam. Tanaman ini bermanfaat sebagai bahan bumbu dan sebagai obat tradisional. Umbi bawang merah mengandung flavon, glikosida sebagai anti radang dan pembunuh bakteri. Kandungan saponinnya bermanfaat sebagai bahan pengencer dahak. Bawang merah juga mengandung zat- zat lain yang berkhasiat menurunkan panas, menghangatkan badan, mengobati masuk angin, memperlancar pengeluaran air seni, mencegah penggumpalan darah, menurunkan kolesterol, dan menurunkan gula darah. Zat yang terkandung dalam umbi bawang merah yaitu antara lain protein, lemak, kalsium, fospor, besi, serta vitamin B1 dan vitamin C (Achyad & Rasyidah, 2000). read more

Potensi dan tantangan budidaya ulat sutera liar atakas (Attacus atlas (L.)) dengan menggunakan tanaman Gempol (Nauclea orientalis L)

Penulis: Siti Sumarmi, Hari Purwanto, dan Rohmat Setyono
Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi UGM

Banyak jenis serangga di alam yang dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kesejahteraan manusia. Salah satu kelompok diantaranya adalah serangga penghasil sutera. Selain serat sutera murbei yang dihasilkan Bombyx mori telah dikembangkan sutera non murbei. Beberapa jenis ulat sutera non murbei (ulat sutera liar ) antara lain Tasar, Eri, Muga dan Anaphe yang telah banyak dikembangkan sebagai penghasil sutera dibeberapa negara, sedangkan jenis lain yang mulai dikembangkan dan belum banyak diteliti adalah fagara (Attacus atlas), coan, mussel dan Cricula trifenestrata (Jolly et al., 1979, Akai, 1997).
Apabila dibandingkan dengan sutera murbei, maka serat sutera liar anggota famili Saturniidae secara mikroskopis serat sutera liar yang dihasilkan tampak memiliki banyak saluran halus sehingga bersifat lebih lembut, sejuk dipakai, tidak mudah kusut, tahan panas, tidak menimbulkan rasa gatal dan anti bakteri (Akai, 1997).
Di berbagai negara seperti Jepang, India, dan Cina industri sutera liar dikembangkan menjadi salah satu penyokong segi sosial ekonomi. Di Indonesia pemanfaatan serat sutera liar khususnya serat fagara atau atakas dan sutera emas baru dimulai tahun 1990-an. Potensi sutera liar di Indonesia cukup besar, setidaknya ada 5 jenis penghasil sutera liar yaitu Attacus atlas L., Cricula trifenestrata Heef., C. elaezia , Samia cynthia ricini , dan Antheraea perny (Situmorang, 1996). Di Yogyakarta ada 3 jenis yaitu A. atlas, A. perny, dan C. trifenestrata. A. atlas memiliki kokon yang lebih besar dan dipandang mempunyai serat sutera yang lebih bermutu tinggi sehingga perlu untuk dibudidayakan. read more