Fakultas Biologi mulai program pengembangan taman dan museum kupu

Di Indonesia ada sekitar 20 jenis kupu yang dikategorikan langka dan dilindungi. Usaha konservasi kupu yang bernilai estetika ini dapat berjalan beriringan dengan program eduwisata berbasis keanekaragaman yang telah mulai menjadi basis wisata keindahan alam. Dalam rangka konservasi dan mengembangkan wisata edukasi, Fakultas Biologi telah mulai merintis pengembangan taman dan museum kupu. Walaupun, pada saat ini masih dalam awal pengembangan fasilitas dan pengembangan tanaman inang. Diharapkan dalam beberapa waktu kedepan, taman dan museum kupu yang dikembangkan oleh Fakultas Biologi dapat menjadi salah satu tujuan wisata edukatif di Yogyakarta. read more

Yuuk kita mengenali serangga di sekitar kita pada usia dini

Penulis: Sukirno

Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi UGM

A. Pengenalan serangga di TK Khalifah Condong Catur

B. Pengenalan serangga kepada siswa TK Indriyasana Turi

Anak-anak usia 4-6 tahun merupakan fase perkembangan dimana anak banyak mengeksplor, berusaha mengenal dan mencoba sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Pada fase ini anak-anak terkadang tidak segan untuk menyentuh, memegang, menangkap, dan menyimpan hewan yang mereka temui di sekitar mereka. Mereka belum mengetahui apakah hewan yang mereka bawa tersebut berbahaya atau tidak. Hewan yang paling banyak ditemui di sekitar rumah, sekolah, dan tempat tinggal adalah serangga. read more

Benarkah lebah madu merugikan tanaman berbunga?

Penulis: Sukirno
Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi UGM

Pada 12 Oktober 2017 yang lalu, Laboratorium Entomologi fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada mengadakan program pengabdian kepada masyarakat di Dusun Kedung Poh Kecamatan Nglipar Gunung Kidul dengan tema Peningkatan Kapasitas Budidaya Lebah Madu di Kampung Lebah Kedung Poh. Tim terdiri dari dosen Fakultas Biologi yaitu: Dr. Siti Sumarmi, Dr. RC Hidayat Soesilohadi, Dr. Hari Purwanto, Drs. Sudaryadi, M.Kes, Dr. Sukirno, dan Ludmilla Fitri Untari, M.Sc. read more

KERAGAMAN JENIS LALAT BUAH Bactrocera spp. (DIPTERA: TEPHRITIDAE) PADA BUAH JAMBU BIJI (Psidium guajava L.), BELIMBING (Averrhoa carambola L.) DAN BIJI MELINJO (Gnetum gnemon L.)

Penulis: Anastasia Herlina Yuni Lestari

Pembimbing: Dr. RC. Hidayat Soesiohadi, M.S.

Keberadaan buah-buahan berkaitan erat dengan kemelimpahan hama. Salah satu kelompok serangga yang merupakan hama penting bagi buah-buahan adalah lalat buah anggota genus Bactrocera (Diptera: Tephritidae) (Kardinan, 2007). Serangan lalat buah dapat menyebabkan kerugian baik secara kuantitas maupun kualitas.  Betina lalat buah buah menyelipkan telur-telurnya dengan alat kelamin yang disebut ovipositor di bawah kulit buah. Sesudah telur menetas, larva memakan  buah (frugivorous) dan hidup di dalam buah hingga instar akhir. Bakteri dan fungi mudah masuk ke buah yang terinfeksi sehingga dapat mempercepat pembusukan (Balagawi, 2006). Buah-buah yang sering menjadi host yaitu jambu biji (Psidium guajava L.), belimbing (Averrhoa carambola L.), dan biji melinjo (Gnetum gnemon L.) (Surahdi, 1999). Oleh karena itu, perlu dilakukan inventarisasi keragaman spesies lalat buah Bactrocera (Diptera: Tephritidae) yang menyerang buah jambu biji, belimbing, dan biji melinjo. Inventarisasi keragaman lalat buah tersebut dapat menjadi informasi awal terutama untuk pengendalian. Teknik koleksi sampel dilakukan dengan menyimpan buah dalam kardus kemudian mensortir pupa yang terdapat di dalam buah. Pupa yang berkembang menjadi imago dapat diidentifikasi. Dari penelitian diperoleh hasil bahwa lalat buah yang menyerang buah jambu biji yaitu  Bactrocera carambolae dan Bactrocera papayae. Sedangkan lalat buah yang menyerang buah belimbing yaitu Bactrocera carambolae. Pada biji melinjo tidak ditemukan lalat buah sebab sampel yang ada lembab dan berjamur. Perbedaan morfologi antara B. carambolae dan B.  papayae yang paling mudah dilihat yaitu bagian abdominal terga 3-4 dan apeks abdomen pada B. carambolae memliki bagian gelap yang lebih luas daripada B.  papayae. Selain itu, aculeus pada jantan dan ovipositor pada betina B. carambolae lebih pendek daripada B.  papayae. read more

Jenis Kupu- Kupu yang Ditemukan di Luweng Jomblang, Semanu, Gunung Kidul

Penulis: Nurul Tristianti

Pembimbing : Dr. R. C. Hidayat Soesilohadi, M.S.

Kawasan Karst merupakan kawasan yang sangat khas dan memiliki keanekaragaman hayati yang unik. Gua merupakan salah satu ciri kawasan karst dan  memiliki berbagai macam kenampakan. Salah satunya berbentuk sumuran yang sangat besar dan dalam yang oleh penduduk disebut sebagai Luweng. Luweng Jomblang secara kasat mata terlihat memiliki keanekaragaman hayati yang besar. Di dalamnya masih banyak ditemukan vegetasi dan serangga seperti kupu- kupu. Selain menarik, kupu-kupu juga dapat berfungsi sebagai penyeimbang alam dan indikator perubahan lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis kupu-kupu yang ditemukan di luweng  Jomblang, Semanu, Gunung Kidul sebagai dasar pengetahuan dalam usaha konservasi kupu- kupu. Penelitian dilakukan dengan dua kali pengambilan data pada bulan Mei-April 2009 dengan penangkapan langsung menggunakan metode jelajah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Luweng Jomblang ditemukan 11 spesies kupu-kupu dari 3 Famili yaitu Famili Papilionidae, Nymphalidae, dan Pieridae. Jenis kupu-kupu tersebut antara lain Catopsilia pomona, Catopsilia pyranthe, Eurema hecabe, Parantica vitrina, Hebomoia glaucippe, Phaedyma columella, Hypolimnas bolina, Phalanta phalanta, Papilio memnon, Graphium sarpedon, dan Graphium doson . Hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan pakan dan faktor lingkungan berupa curah hujan, suhu, kelembaban dan intensitas cahaya matahari. Di dalam luweng banyak terdapat vegetasi sebagai pakan yang mendukung sebagai habitat kupu- kupu. Usaha konservasi kupu- kupu dengan menjaga habitat alaminya sangat diperlukan agar kupu-kupu tetap lestari. read more