“Si Cantik” yang Terusir

Penulis: Tiffany Hanik Lestari

Mahasiswa Program Pascasarjana Biologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada

Gambar. Kupu raja (Troides helena) yang sedang kopulasi (gambar diambil dari flikr.com)

Kehilangan biodiversitas merupakan topik utama dalam kajian ilmu hayati (ekologi). Hal ini utamanya disebabkan oleh kerusakan dan fragmentasi habitat, serta ditambah dengan faktor penyebab kepunahan spesies seperti eksploitasi besar-besaran, adanya spesies asing yang diintroduksi secara alami ataupun buatan, dan perubahan iklim (Krauss et al., 2010). Selain itu, fragmentasi habitat dan kerusakan habitat juga menjadi salah satu faktor dalam kehilangan biodiversitas.

Fragmentasi habitat merupakan pemecahan suatu luasan habitat menjadi kantong-kantong habitat yang dapat terjadi baik secara alami maupun buatan. Fragmentasi habitat secara alami terbentuk akibat adanya bencana alam atau naiknya permukaan air laut, yang mengakibatkan terbentuknya pulau-pulau kecil. Namun, secara umum fragmentasi habitat terjadi akibat aktivitas manusia, seperti pembangunan jalan, jembatan, rel, perumahan, dan pengalihan fungsi lahan dari heterogen menjadi homogen. Kerusakan habitat dapat timbul akibat adanya polusi maupun aktivitas manusia yang memicu perubahan struktur ekosistem alaminya. Kehilangan biodiversitas dapat terjadi pada setiap tingkatan trofik kehidupan karena proses makan-dimakan dalam jaring-jaring makanan akan saling berkaitan dan berpengaruh dalam sumber daya.

Kehilangan biodiversitas pada setiap tingkatan trofik akan menimbulkan terjadinya perubahan komposisi vegetasi di suatu wilayah. Makhluk hidup berupa serangga herbivora (konsumen I) akan lebih cepat merespon perubahan tersebut dibanding makhluk hidup lain karena sulit beradapatasi dengan reproduksi banyak namun siklus hidup relatif cepat. Akibatnya, serangga herbivora (konsumen I) terancam mengalami kepunahan lebih cepat. Sebagai contoh, si cantik kupu-kupu yang memiliki keunikan sayap setiap spesiesnya. Si cantik kupu-kupu juga berperan sebagai polinator, dimana bahan pangan dasarnya berupa nektar bunga. Hal ini menyebabkan kupu-kupu sangat berperan dalam memelihara perbanyakan tumbuhan secara alami di alam melalui persebaran gamet jantan yang terbawa kupu-kupu untuk menyerbuki gamet betina pada tumbuhan (Chahyadi dan Bibas, 2016). Selain itu,  peran kupu-kupu dalam melakukan penyerbukan dapat menghindari terjadinya inbreeding pada tumbuhan. Si cantik ini mengalami dinamika populasi sampai menuju kepunahan apabila tumbuhan bahan nektar sulit ditemukan dalam ekosistem tersebut. Selain itu, kupu-kupu sebagai agen dispersal juga tidak dapat berperan dengan baik, sehingga tumbuhan yang hanya memiliki tipe diaspora melalui polinasi dengan bantuan kupu-kupu akan lebih cepat punah.

Beberapa jenis kupu-kupu memiliki sensitifitas yang cukup tinggi terhadap perubahan lingkungan. Kupu-kupu yang sensitif memiliki sumber nektar dan habitat spesifik hanya pada tumbuhan tertentu. Selain itu, kupu-kupu tersebut juga memerlukan habitat spesifik untuk kawin, peletakan telur, sumber pangan larva, peletakan kepompong, dan aktivitas imago saat berperan sebagai polinator dalam ekosistem. Kupu-kupu akan cepat punah jika sumber daya yang ada dalam habitatnya berkurang atau bahkan bisa mencapai punah masal, meskipun beberapa jenis kupu-kupu ada yang memiliki karakteristik perilaku menghasilkan telur yang banyak, namun dengan adanya perubahan lingkungan, telur bisa tidak berkembang.

Mari kita bayangkan jika perubahan habitat yang ada dapat menimbulkan hilangnya spesies kupu-kupu yang ada di sekitar kita, bahkan di Bumi ini. Kita tentunya tidak akan dapat menikmati indahnya taman karena indahnya taman tidak hanya jenis tumbuhan apa yang berbunga indah, tetapi juga kehadiran kupu-kupu dengan sayapnya yang indah dapat menambah keindahan taman. Perpaduan warna bunga dengan kupu-kupu yang cantik, menjadi suatu pemandangan yang sangat menarik.

Selain itu, peranan kupu-kupu sebagai polinator juga akan berkurang. Tumbuhan-tumbuhan yang memiliki karakteristik bentuk bunga untuk serangga yang memiliki tipe mulut penghisap, seperti kupu-kupu, akan mengalami perubahan struktur secara signifikan dan mengalami evolusi sebagai efek jangka panjang. Bahkan tumbuhan yang kemungkinan tidak mampu beradaptasi dapat punah atau mati karena tidak terjadi pertemuan antara gamet jantan dengan gamet betina tumbuhan, dimana secara alami prosesnya dibatu oleh kupu-kupu. Tumbuhan tersebut tidak akan menghasilkan buah sebagai calon anak yang nantinya dapat menjadikan tumbuhan tersebut tetap eksis di Bumi ini.

Oleh sebab itu, penjagaan terhadap habitat untuk kupu-kupu perlu dilakukan karena generasi manusia selanjutnya sangat perlu melihat keindahan ciptaan Tuhan, salah satunya adalah kupu-kupu. Mereka harus mengetahui bahwa peranan kupu-kupu di alam juga sangat penting dan berkaitan dengan berbagai proses kehidupan di Bumi ini. Akankah si cantik kupu-kupu harus terusir dari Bumi ini?

 

Referensi

Chahyadi, E. dan Bibas, E. 2016. Jenis-Jenis Kupu-Kupu (Sub Ordo Rhopalocera) yang Terdapat di Kawasan Hapanasan, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Jurnal Riau Biologia 1 (8): 50-56

Krauss, J., Bommarco, R., Guardiola, M., Heikkinen, R. K., Helm, A., Kuussaari, M., . . . Steffan-Dewenter, I. (2010). Habitat fragmentation causes immediate and time-delayed biodiversity loss at different trophic levels. Ecology Letters, 13(5), 597-605. doi: 10.1111/j.1461-0248.2010.01457.x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.