KERAGAMAN JENIS LALAT BUAH Bactrocera spp. (DIPTERA: TEPHRITIDAE) PADA BUAH JAMBU BIJI (Psidium guajava L.), BELIMBING (Averrhoa carambola L.) DAN BIJI MELINJO (Gnetum gnemon L.)

Penulis: Anastasia Herlina Yuni Lestari

Pembimbing: Dr. RC. Hidayat Soesiohadi, M.S.

Keberadaan buah-buahan berkaitan erat dengan kemelimpahan hama. Salah satu kelompok serangga yang merupakan hama penting bagi buah-buahan adalah lalat buah anggota genus Bactrocera (Diptera: Tephritidae) (Kardinan, 2007). Serangan lalat buah dapat menyebabkan kerugian baik secara kuantitas maupun kualitas.  Betina lalat buah buah menyelipkan telur-telurnya dengan alat kelamin yang disebut ovipositor di bawah kulit buah. Sesudah telur menetas, larva memakan  buah (frugivorous) dan hidup di dalam buah hingga instar akhir. Bakteri dan fungi mudah masuk ke buah yang terinfeksi sehingga dapat mempercepat pembusukan (Balagawi, 2006). Buah-buah yang sering menjadi host yaitu jambu biji (Psidium guajava L.), belimbing (Averrhoa carambola L.), dan biji melinjo (Gnetum gnemon L.) (Surahdi, 1999). Oleh karena itu, perlu dilakukan inventarisasi keragaman spesies lalat buah Bactrocera (Diptera: Tephritidae) yang menyerang buah jambu biji, belimbing, dan biji melinjo. Inventarisasi keragaman lalat buah tersebut dapat menjadi informasi awal terutama untuk pengendalian. Teknik koleksi sampel dilakukan dengan menyimpan buah dalam kardus kemudian mensortir pupa yang terdapat di dalam buah. Pupa yang berkembang menjadi imago dapat diidentifikasi. Dari penelitian diperoleh hasil bahwa lalat buah yang menyerang buah jambu biji yaitu  Bactrocera carambolae dan Bactrocera papayae. Sedangkan lalat buah yang menyerang buah belimbing yaitu Bactrocera carambolae. Pada biji melinjo tidak ditemukan lalat buah sebab sampel yang ada lembab dan berjamur. Perbedaan morfologi antara B. carambolae dan B.  papayae yang paling mudah dilihat yaitu bagian abdominal terga 3-4 dan apeks abdomen pada B. carambolae memliki bagian gelap yang lebih luas daripada B.  papayae. Selain itu, aculeus pada jantan dan ovipositor pada betina B. carambolae lebih pendek daripada B.  papayae. read more

Jenis Kupu- Kupu yang Ditemukan di Luweng Jomblang, Semanu, Gunung Kidul

Penulis: Nurul Tristianti

Pembimbing : Dr. R. C. Hidayat Soesilohadi, M.S.

Kawasan Karst merupakan kawasan yang sangat khas dan memiliki keanekaragaman hayati yang unik. Gua merupakan salah satu ciri kawasan karst dan  memiliki berbagai macam kenampakan. Salah satunya berbentuk sumuran yang sangat besar dan dalam yang oleh penduduk disebut sebagai Luweng. Luweng Jomblang secara kasat mata terlihat memiliki keanekaragaman hayati yang besar. Di dalamnya masih banyak ditemukan vegetasi dan serangga seperti kupu- kupu. Selain menarik, kupu-kupu juga dapat berfungsi sebagai penyeimbang alam dan indikator perubahan lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis kupu-kupu yang ditemukan di luweng  Jomblang, Semanu, Gunung Kidul sebagai dasar pengetahuan dalam usaha konservasi kupu- kupu. Penelitian dilakukan dengan dua kali pengambilan data pada bulan Mei-April 2009 dengan penangkapan langsung menggunakan metode jelajah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Luweng Jomblang ditemukan 11 spesies kupu-kupu dari 3 Famili yaitu Famili Papilionidae, Nymphalidae, dan Pieridae. Jenis kupu-kupu tersebut antara lain Catopsilia pomona, Catopsilia pyranthe, Eurema hecabe, Parantica vitrina, Hebomoia glaucippe, Phaedyma columella, Hypolimnas bolina, Phalanta phalanta, Papilio memnon, Graphium sarpedon, dan Graphium doson . Hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan pakan dan faktor lingkungan berupa curah hujan, suhu, kelembaban dan intensitas cahaya matahari. Di dalam luweng banyak terdapat vegetasi sebagai pakan yang mendukung sebagai habitat kupu- kupu. Usaha konservasi kupu- kupu dengan menjaga habitat alaminya sangat diperlukan agar kupu-kupu tetap lestari. read more

INVENTORI CAPUNG (INSECTA: ODONATA) DI TELAGA MADIRDA DAN AIR TERJUN JUMOG, BERJO, NGARGOYOSO, KARANGANYAR, JAWA TENGAH

INVENTORI CAPUNG (INSECTA: ODONATA) DI TELAGA MADIRDA DAN AIR TERJUN JUMOG, BERJO, NGARGOYOSO, KARANGANYAR, JAWA TENGAH

Penulis: Markantia Zarra Peritika dan RC Hidayat Soesilohadi

  1. PENDAHULUAN

Capung dimasukkan dalam Ordo Odonata., yang terdiri atas dua Subordo yaitu Anisoptera (dragonflies) dan Zygoptera (damselflies). Metamorfosis anggota Ordo Odonata tersebut adalah hemimetabola (metamorfosis tidak sempurna). Stadium pradewasa (telur dan naiad) hidup di ekosistem perairan tawar dan imago hidup di ekosistem terestrial di sekitar perairan (Corbet 1962).

Capung dewasa terbang dekat dengan perairan hingga radius 500 m dari tepi perairan (Heckman 2006; Theischinger & Hawking 2006). Pematangan gonad dalam waktu 1 s.d. 4 minggu sejak menjadi capung dewasa. Kopulasi diawali dengan posisi tandem, individu jantan mengaitkan ujung abdomen ke bagian occiput (dragonflies) dan prothorax (damselflies) pada individu betina. Kemudian dilanjutkan transfer sperma (posisi seperti roda) yaitu individu jantan mentransfer sperma dari segmen ke-2 abdomen ke kantong penyimpanan sperma pada individu betina selanjutnya terjadi fertilisasi di kantong tersebut (Battin 1993; Theischinger & Hawking 2006). read more