Keanekaragaman jenis serangga pada tanaman bawang merah (Allium cepa L.) di Desa Srikayangan, Sentolo, Kulon Progo

Penulis: Siti  Sumarmi dan Dwi Astuti

Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi UGM

Bawang merah (Allium cepa L) adalah jenis tanaman berumpun dan berumbi lapis warna keunguan serta berbau tajam. Tanaman ini bermanfaat sebagai bahan bumbu dan sebagai obat tradisional. Umbi bawang merah mengandung flavon, glikosida sebagai anti radang dan pembunuh bakteri. Kandungan saponinnya bermanfaat sebagai bahan pengencer dahak. Bawang merah juga mengandung zat- zat lain yang berkhasiat menurunkan panas, menghangatkan badan, mengobati masuk angin, memperlancar pengeluaran air seni, mencegah penggumpalan darah, menurunkan kolesterol, dan menurunkan gula darah. Zat yang terkandung dalam umbi bawang merah yaitu antara lain protein, lemak, kalsium, fospor, besi, serta vitamin B1 dan vitamin C (Achyad & Rasyidah, 2000). read more

Potensi dan tantangan budidaya ulat sutera liar atakas (Attacus atlas (L.)) dengan menggunakan tanaman Gempol (Nauclea orientalis L)

Penulis: Siti Sumarmi, Hari Purwanto, dan Rohmat Setyono
Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi UGM

Banyak jenis serangga di alam yang dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kesejahteraan manusia. Salah satu kelompok diantaranya adalah serangga penghasil sutera. Selain serat sutera murbei yang dihasilkan Bombyx mori telah dikembangkan sutera non murbei. Beberapa jenis ulat sutera non murbei (ulat sutera liar ) antara lain Tasar, Eri, Muga dan Anaphe yang telah banyak dikembangkan sebagai penghasil sutera dibeberapa negara, sedangkan jenis lain yang mulai dikembangkan dan belum banyak diteliti adalah fagara (Attacus atlas), coan, mussel dan Cricula trifenestrata (Jolly et al., 1979, Akai, 1997).
Apabila dibandingkan dengan sutera murbei, maka serat sutera liar anggota famili Saturniidae secara mikroskopis serat sutera liar yang dihasilkan tampak memiliki banyak saluran halus sehingga bersifat lebih lembut, sejuk dipakai, tidak mudah kusut, tahan panas, tidak menimbulkan rasa gatal dan anti bakteri (Akai, 1997).
Di berbagai negara seperti Jepang, India, dan Cina industri sutera liar dikembangkan menjadi salah satu penyokong segi sosial ekonomi. Di Indonesia pemanfaatan serat sutera liar khususnya serat fagara atau atakas dan sutera emas baru dimulai tahun 1990-an. Potensi sutera liar di Indonesia cukup besar, setidaknya ada 5 jenis penghasil sutera liar yaitu Attacus atlas L., Cricula trifenestrata Heef., C. elaezia , Samia cynthia ricini , dan Antheraea perny (Situmorang, 1996). Di Yogyakarta ada 3 jenis yaitu A. atlas, A. perny, dan C. trifenestrata. A. atlas memiliki kokon yang lebih besar dan dipandang mempunyai serat sutera yang lebih bermutu tinggi sehingga perlu untuk dibudidayakan. read more